Curhatku dan Ayah
Ayah, aku tidak sepertimu yang begitu
tanggap dan tangkas dalam memastikan sebuah pilihan. Seperti halnya Ayah
menjadi super hero lagi pintar memilih perempuan yang kini kupanggil Ibu. Yah,
mungkin Ayah masih ingat, dulu saat aku masih dibangku sekolah, aku begitu takut
ke Ayah. Bukan takut sih sebenarnya, melainkan khawatir saja Ayah murka dan
marah. Bahkan saking takutnya ke Ayah, aku hanya suka bercurhat prihal-prihal
pribadiku ke Ibu, kekasih Ayah. Meski akhirnya Ayah bakal tahu semua dari Ibu.
Sekarang pun tetap sama yah.
Sekarang aku sudah berkuliah yah,
‘kuliah saja, gak usah kerja menjahit pakaian, cukup aku saja kerja’. Perintah
Ayah waktu itu. Sungguh mulia sikapmu
yah. Kini aku beranikan diri ngomong ke Ayah. Bukan tentang naura masa laluku
tapi berkenaan dengan calonku yah. Aku tidak berniat mencari yang sempurna yah,
soalnya kesempurnaan itu hanya milik Tuhan yang maha segalanya. Aku hanya ingin
kayak Ayah, pemuda beruntung mendapatkan Ibu. Dan aku mencari perempuan seperti
ibu yang kini aku tuju, perempuan yang penuh kesederhanaan dan kesabaran.
Perempuan bersikap sederhana saat kita menuai rizki berlimpah, penuh kesabaran
kala bencana miskin menyapa keluarga.
Ayah tahu sendiri bukan! Aku tidak
begitu gila kepada cewek cantik. Tapi calonku itu cantik, minimal versiku
sendiri yah. Aku takut jika milih cewek kurang cantik bakal melirik kepada
cewek lebih ayu yang lain. Cita-citaku pingin kayak Ayah setia meski aku masih
dalam tataran berproses.
Ayah tidak usah khawatir, cukup aku aja
yang mikirin ayah. Seminggu lalu, aku bertemu dengan cewek berface cantik mirip
ibu, yang sekarang itu. Tingkahnya, gaya bicaranya, pokoknya sama dengan Ibu.
Aku sudah berkenalan dan cukup deket. Tinggal nunggu waktu saja kalau memang
mau serius ke dia.
Namun aku urungkan yah, karena jarak
antara rumahnya dan gubuk kita sangat jauh menurut orang tua seumuran Ayah.
Sebab kondisi Ayah tambah tahun akan menurun bukan nambah bugar. Aku takut
kalau menikah dan membangun keluarga kecil bersama cewek itu, aku dan keluarga
kecil kita bakal jarang bertemu. Jarang komunikasi dan prihal ini yang tak pernah
diingin ayah.
Doakan aku yah, sebagaimana ibu yang
rutin mendoakan kesuksesanku dalam semua impianku. Aku tidak ingin cewek
jodohku itu bukanlah cewek yang ayah pinta dalam doa ikhlas ayah. Biar aku, ayah,
terutama ibu dapat bersyukur cewek baik itu masuk kekeluarga sederhana kita.
Oleh Syaiful Hady*
Oleh Syaiful Hady*

Komentar
Posting Komentar