Postingan

Kucing Putih di Rumahmu

Gambar
Kamu pernah bilang bahwa kamu bagitu suka kepada kucing berwarna putih polos. Aku masih ingat kata-katamu semuanya meski sekarang kita sudah tidak bisa dibilang kita. Sekarang kamu sudah punya kucing yang kamu harapkan sejak dulu. Dan benar kamu begitu mengasihi dan menyanyangi kucing itu. Menurutmu kucing berbulu putih itu bertanda baik. Artinya barang siapa yang punya kucing putih maka hidupnya akan terlengkapi dengan kebahagiaan. Katamu waktu kita bercanda di pinggir pantai laut deket rumah nenekmu. Dan benar juga, apa yang kamu ingin, sekarang menjadi kenyataan. Kau bahagia dengan lelaki yang hendak menghancurkan hubungan cinta kita saat kita pacaran. Tapi sudahlah itu cerita lama. Gak berfaidah kalau masih diingat dan diumbar-umbarkan sebagai cerita. Toh kamu sudah memilihnya menjadi pendampingmu hari ini. Pendamping yang setia melerai air mata sedihmu, dan selalu memelukmu saat malam bertengkar dengan angin di ketinggian awan langit sana. Hanya saja aku tak lupa kepada...

Untukmu Calon Menantu Ibu

Gambar
Tiada kalimat pembuka yang pantas untuk kusampaikan padamu kecuali ucapan kata maaf. Maaf, karena aku telat dalam segala hal bagimu. Aku telat datang mengenalmu padahal teman-teman sebayamu sudah mulai menjalani hubungan lebih  serius bersama pacarnya sejak dulu. Maaf, aku terlambat datang mengenalmu disaat kau sudah mulai bosan memanggil namaku dan mengemis doa kepada Tuhanmu. Maaf, aku terlambat meminta restu kepada orang tuamu di mana beberapa tahun silam orang tuamu menanyai tentang seseorang di sisimu. Tidak pernah terlintas dalam benakku, untuk membuatmu menunggu berlama-lama sampai waktunya tiba. Hanya saja, kau pastinya paham betul bukan, dalam perjalanan cinta manusia tidak semuanya mulus sesuai skema-skema dan rancangan dasar mereka. Termasuk perjalanan cintaku yang penuh dengan kerumitan. Penuh lika-liku perjuangan yang benar-benar mematikan. Termasuk hari ini, saat aku memastikan kau yang harus kuperjuangkan sampai mati. Beberapa wanita yang kujumpai dan berteman...

Curhatku dan Ayah

Gambar
Ayah, aku tidak sepertimu yang begitu tanggap dan tangkas dalam memastikan sebuah pilihan. Seperti halnya Ayah menjadi super hero lagi pintar memilih perempuan yang kini kupanggil Ibu. Yah, mungkin Ayah masih ingat, dulu saat aku masih dibangku sekolah, aku begitu takut ke Ayah. Bukan takut sih sebenarnya, melainkan khawatir saja Ayah murka dan marah. Bahkan saking takutnya ke Ayah, aku hanya suka bercurhat prihal-prihal pribadiku ke Ibu, kekasih Ayah. Meski akhirnya Ayah bakal tahu semua dari Ibu. Sekarang pun tetap sama yah. Sekarang aku sudah berkuliah yah, ‘kuliah saja, gak usah kerja menjahit pakaian, cukup aku saja kerja’. Perintah Ayah waktu itu.   Sungguh mulia sikapmu yah. Kini aku beranikan diri ngomong ke Ayah. Bukan tentang naura masa laluku tapi berkenaan dengan calonku yah. Aku tidak berniat mencari yang sempurna yah, soalnya kesempurnaan itu hanya milik Tuhan yang maha segalanya. Aku hanya ingin kayak Ayah, pemuda beruntung mendapatkan Ibu. Dan aku mencari pere...

Curhatku dan Ibu

Gambar
“Nak, tidurlah sudah larut malam, nanti kau sakit” nasihat sayang Ibu saat melihatku belum tidur. Sejatinya Ibu sudah tahu penyebab aku begadang malam ini, namun Ibu pasti punya rasa iba mencekam tatkala sang buah hati dirundung masalah dan gusar. “iya Ibu, entar lagi”. Sahutku penuh ta’dim sesaat sebelum Ibu menutup pintu kamarku. Selepas aku putus dengan naura kekasihku, aku tidak pernah pulang normal. Kadang pulang kerja pagi pulangnya sore, kadang juga sampai malam. Mungkin bagi orang yang sedang patah hati akan lebih nyaman kalau jauh dari kenangan saat masih bersama. Ya kenangan saat aku masih bersama naura sebelum pulang rumah mampir di warung kopi deket sekolah. Kebetulan naura begitu demam kopi meski perempuan. Aku bekerja sebagai tukang jahit setelah lulus SMA. Sedangkan naura melanjutkan studinya di kampus ternama di jogja. Wajar menurutku naura orang berpunya, aku orang yang biasa tanpa apa-apa. Bagiku, cowok hebat itu adalah cowok yang berani jujur pada diri sendir...

Mengeraskan Nama-Mu di Ujung Malam

Gambar
Konon di waktu silam, hiduplah seorang wanita yatim-piatu, seorang wanita berface ayu. Hari-harinya disediakan dan disibukkan pekerjaan rumah majikan dermawan nan baik hati. Wanita yang berjelmakan bidadari yang berpijak di bumi tanah ini. Wanita yang sedari kecil tidak pernah menuai kasih sayang kedua orang tuanya tapi baik kepada sesama. Wanita berparas anggun berhati berlian. Wanita yang tekun beribadah dan tidak lupa memohon jodoh kepada Tuhan YANG MAHA KUASA. Meski sekedar bertugas sebagai pembantu akan tetapi dengan keikhlasan yang besar, dapat terbayarkan dengan rentetan kebahagiaan. Dalam hati bersihnya tiada terbesit untuk mendapat gaji besar meski dapat dibilang pekerjaannya selalu menjanjikan. Ditambah pemilik rumah merupakan orang kaya bergelimang harta, pembantunya banyak, alat-alat tranportasi seperti mobil bervariasi merek dan ukurannya. Lebih pentingnya baik hati lagi tidak sombong. Hidup di bawah asupan tuan berharta, Wanita anggun tersebut tidak punya secuil pu...

Kutitipkan Nama-Mu Kepada Tuhan

Gambar
Syahdan di kurun waktu tertentu hiduplah seorang pemuda tampan rupawan nan bagus perangainya. Pemuda yang dilahirkan dari ras miskin, pemuda yang berpengatahuan luas karena sedari kecil selalu ingin mengetahui akan segalanya. Meski dari kalangan orang melarat, tidak membuatnya sampai psimis untuk melanjutkan pendidikan. Hal ini terbukti gelar titel sarjana yang telah diraihnya. Berstatus akademisi meski hidupnya dihimpit tetangga pedesaan asri serta adat setempat berupa menikah di usia maksimal 25 tahun. Kini umur sang pemuda telah menginjak 26 tahun. Kecaman, sindirian, dan perkataan tidak sedap sudah mulai menyapa dan menyesakkan harinya, terutama saat lebaran tiba menjelang. Untungnya si pemuda anak pondok, jadi tidak terlalu dipersoalkan tudingan-tudingan  miring  untuknya karena liburan setahun sekali. Sang pemuda percaya bahwa jodoh tidak akan pernah tertukar dengan siapa. Akan tiba pada waktu di mana senja ikut tersenyum atas pernikahannya. Konon, saat ber...

Pacaran Tidak Perlu Dipublikasikan

Gambar
Di zaman nenek moyang dulu, jika dua sejoli merajut hubungan asmara tidaklah diklaim sebagai “ Pacaran ”.  Pun terjadi di daerah sebagian pedesaan di kota bondowoso khususnya, begitulah sependek Penulis ketahui. Namun beriringan dengan berlalu waktu dan perubahan kondisi-situasi hubungan tersebut berfotosintesis kepada sebuah ikatan yang bernama “ Pacaran ”. Pacaran adalah ikatan yang diumbar-umbar di masa sekarang. Padahal pacaran di zaman kuno dulu disembunyikan karena malu kepada keluarga, tetangga terutama akan mencoreng nama baik orang tua. Kini hubungan pacaran sudah mulai diviralkan dan diceritakan kepada orang-orang. Tidak cukup sampai di situ tetapi juga aktivitas pacaran sudah ditampakkan dikhalayak ramai. Seakan-seakan pacaran diangap hal yang membanggakan dan hebat dan justru status jomblo nan mulia telah terpinggirkan lagi mendapat cacian dan kecaman. Sungguh aneh tapi nyata, pacaran yang harus ditutupi karena dirasa aib, sekarang malah dipertontonka...