Kucing Putih di Rumahmu
Kamu
pernah bilang bahwa kamu bagitu suka kepada kucing berwarna putih polos. Aku
masih ingat kata-katamu semuanya meski sekarang kita sudah tidak bisa dibilang
kita. Sekarang kamu sudah punya kucing yang kamu harapkan sejak dulu. Dan benar
kamu begitu mengasihi dan menyanyangi kucing itu.
Menurutmu
kucing berbulu putih itu bertanda baik. Artinya barang siapa yang punya kucing
putih maka hidupnya akan terlengkapi dengan kebahagiaan. Katamu waktu kita
bercanda di pinggir pantai laut deket rumah nenekmu. Dan benar juga, apa yang
kamu ingin, sekarang menjadi kenyataan. Kau bahagia dengan lelaki yang hendak
menghancurkan hubungan cinta kita saat kita pacaran.
Tapi
sudahlah itu cerita lama. Gak berfaidah kalau masih diingat dan
diumbar-umbarkan sebagai cerita. Toh kamu sudah memilihnya menjadi pendampingmu
hari ini. Pendamping yang setia melerai air mata sedihmu, dan selalu memelukmu
saat malam bertengkar dengan angin di ketinggian awan langit sana.
Hanya
saja aku tak lupa kepada tragedi hubungan kita putus. Kala kamu meminta putus
padaku waktu itu. Padahal keluarga kecilku sudah bermaksud bulat hendak mempersuntingmu,
tinggal nunggu hari baik saja. Namun siapa yang bisa nebak takdir? Seperti
takdir kita hari ini, takdir yang menegaskan bahwa kita tidak patut bersatu
lagi.
Aku
selalu memandangimu saat kau beribadah, saat kau berinteraksi dengan keluarga
besarmu. Pokonya aku selalu membuntutimu kemana pun langkah kakimu beranjak
pergi. Meski bukan pandangan langsung dengan mata tapi setidaknya ada kucing
putih itu yang selalu menceritakan tentangmu padaku.
Kamu
gak bakalan pernah tahu, bahwa kucing putih itu adalah kucing milikku. Kucing
yang kubeli kepada lelaki berengsek yang kau anggap hebat di sisimu sekarang
itu. Aku tak akan pernah bercerita padamu, tentang alasanku membuat ulah waktu
itu hingga kita putus. Hanya saja, setiap kali lelaki itu memegang tanganmu di
depan mataku. Entah kenapa ada tetesan hujan kecil mengalir di pipiku.
Kalau
kamu tahu, kucing itu adalah kucing milikku mungkin kamu akan kembali padaku.
Tapi tak akan pernah kulakukan. Lelaki di sampingmu itu adalah lelaki yang
menyandraku. Setelah pulang dari mengantarmu, dia bersama beberapa bodigatnya
ramai-ramai memukulku dan mengintimidasi agar aku meninggalkanmu.
Aku
tidak pernah gentar atas ancamannya. Karna aku pernah bilang kalau aku cinta
kamu dan tak pernah main-main. Aku dihujani beberapa pukulan hingga tak
sadarkan diri, sesudah sadar dihajar lagi terus begitu sampai mereka bosan
sendiri. Dan aku tetap atas pendirianku, kometmen kita, cita-cita sederhana
kita di masa tua.
Karena
mereka tidak punya cara lain lagi, untuk menghancurkan pendirianku. Akhirnya
mereka memberiku pilihan. Pilihan yang tak mudah dan berat sekali kutentukan.
Jika aku tidak menjauhimu maka mereka akan membunuh kucing putihku yang kini
bersamamu. Aku gak tega jika hal naas itu terjadi padamu. Mengingat kamu pernah
bilang bahwa kamu punya penyakit yang andaikan kamu terkejut maka kematian akan
merenggutmu.
Sudah
cukup kamu berbaring koma dulu gara-gara kucing putihmu tertabrak mobil di
depan rumahmu. Bagiku, hidupmu lebih penting dari segalanya termasuk
harapan-harapan yang kita ukir di batu besar pinggir pantai sana. Bagiku, cinta
tidak sekedar memiliki tapi juga tentang pengorbanan yang tiada henti. Sebagaimana
pengorbananku yang sampai kapan pun kamu tidak bakal ngerti. Maaf, aku tidak
jujur padamu.
Salam Hangat Santri Ma'had Aly Sukorejo

"Agen poker terbesar dan terpercaya ARENADOMINO.
BalasHapusminimal depo dan wd cuma 20 ribu
dengan 1 userid sudah bisa bermain 9 games
ayo mampir kemari ke Website Kami ya www.arenadomino.com
Wa :+855964967353
Line : arena_01
WeChat : arenadomino
Yahoo! : arenadomino"