Telat Nikah! Jangan Sampai

Nikah merupakan salah satu sunah nabi. Sunah yang terkesan menjadi perkara wajib bagi kaum remaja-dewasa zaman ini. Menurut sejarah, Nabi Muhammad SAW menikah saat berumur dua puluh lima tahun. Sementara usia istri Nabi; siti Khatijah, para ulama masih berselisih pendapat.
          Berbicara tentang nikah, maka mau tidak mau akan terbahas tentang usia layak untuk menikah. Remaja-dewasa dianggap layak menikah sebagaimana tercantum dalam Pasal 7 ayat 1 UU Nomor 1 Tahun 1974 berbunyi: 19 tahun untuk lak-laki dan 16 tahun untuk perempuan.
       Di zaman yang penuh dengan kejutan ini, terutama bagi anak akademisi, menikah di usia sebagaimana yang dipaparkan tadi seakan-akan sudah mulai tabu apalagi masih aktif berkuliah. Rata-rata para mahasiswa yang lulus berkuliah berkisar umur 20 ke atas, mencakup laki-laki maupun perempuan. Fakta dan data ini merupakan angka bijak dan akurat.
       Dengan melonjatnya para anak muda berpendidikan, sudah barang tentu akan berkonsekoensi kepada pernikahannya kelak. Boleh jadi, menikah di usia dua puluhan ke atas (masih dalam lingkup koredor normal). Bisa jadi telat menikah.
       Sebenarnya, ucapan "telat menikah" itu tidak ada rumus aritmatikanya. Telat nikah itu hanya guyonan untuk para jomblo akut (sorry tidak punya niat menyinggung). sebatas ucapan sensasi untuk para joker (jomblo keren).
         Kita sama-sama tidak bisa menyetempel takdir Tuhan. Takdir itu bersifat rahasia Ilahi, tidak satu pun manusia yang bisa ngerti. Bagi kita (kaum dewasa) pasti berharap menikah pada saat benar-benar matang dan siap. Tapi kembali kepada diri masing-masing, sebab selalu ada perasaan tidak pernah siap.
         Menikah bukan antara siap dan tidak siap. Bukan antara punya harta banyak dan tidak punya apapun. Bukan antara masih merasa bodoh dan sudah lagi pintar. Nikah itu tentang kometmen antara dua sejoli, nikah itu tentang menggabungkan dua pihak keluarga besar, nikah itu tentang mau tidaknya menjalankan sunah Nabi Muhammad SAW.
        Tadi, dikatakan dua kometmen maksudnya harus saling serius, karena jika yang laki-laki saja berkometmen, si perempuan main-main maka hubungan akan menggantung, jika laki-lakinya tidak serius sementara perempuannya serius maka akan tersakiti pihak perempuan, dan jika dua sejoli sama-sama tidak serius berarti pacaran jadinya.
         Tulisan ini tidak berniat untuk memotivasi anda (para single setia) untuk berlomba-lomba menikah, bukan itu maksudnya. Akan tetapi kalau jiwa sudah mulai tidak stabil, syahwat goyah telah hilang control, kebutuhan biologis sudah sangat mengaung-ngaung. Maka (bukan saran dari saya, saya juga belum nikah) jangan sampai telat untuk menikah.
             Semoga jodoh kita sesuai apa yang kita ingini. Mudah-mudahan jodoh kita adalah jodoh yang diridoi. Moga-moga jodoh kita bisa bersabar menerima kekurangan diri kita, sedangkan kita dapat bersyukur atas kelebihannya.
Wallahu A’lam... Salam Hangat Santri Ma’had Aly


Oleh Syaiful Hady*




* Alumnus Nurul Qarnain
 Santri Aktif Ma'had Aly Sukorejo.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kucing Putih di Rumahmu

Untukmu Calon Menantu Ibu

Risalah Kecil Santri Sebelum Balik Pondok