Tentang Rawa dan Bingung

Judul tema ini berawal dari suatu insiden pilu cinta seorang teman. Penulis sengaja memberi nama tema demikian, soalnya ditelaah secara definitif bahwa rawa adalah lahan genangan air. Sementara makna bingung ialah tidak tahu arah. Jadi gabungan kata keduanya melahirkan pemahaman makna yakni tempat orang buta arah tujuan. Di mana makna yang dikehendaki dari kata buta tertuju pada cinta yang membingungkan. Mari langsung ke penguraian.
Seumpama kita berada dalam posisi genting, misal dalam rangka berjuang mendapatkan si dia, tapi ternyata dia milih orang lain dengan alasan karena sudah kadung terjalin ikatan pacaran sebelumnya. Ceritanya, cinta pada pacar orang. Ditolak, sakit bukan?
Beberapa kaula muda era sekarang lebih suka memilih hubungan yang namanya pacaran daripada ikatan yang diridoi Tuhan. Wajar bagi yang fase penjajakan tapi kalau udah layak menikah. Bukan wajar lagi loo.
Akhirnya saat telat nikah, kemudian ngomong pasrah kepada takdir. Ucapnya "Terserah Allah nanti siapa yang akan menjadi takdir saya". Termasuk sikap kurang baik adalah plin-plan, ingin menjalin hubungan serius sama si A tapi masih pacaran sama si B. Merasa mabuk berat untuk menunjuk satu di antara dua manusia yang sama-sama mapan. Pacaran dan punya rasa sayang pada orang lain.
Orang kayak gini menyebalkan bukan? Sebab seakan-akan dia memberi harapan semi palsu. Jika kita berada diposisi orang lain itu, orang yang dijanjikan harapan palsu maka kita pasti kacau. Bukankah mencintai pacar orang, itu sangat-sangat tidak menyenangkan? Terlebih lagi menyakitkan saat si dia berstatus di facebook misalnya lalu saling balas pesan mesra, sakitnya itu di sini lo (hati kecil ini).
Cinta itu sangat rumit teruntuk orang yang jalan cintanya itu tidak datar, sinonimnya orang sakit. Tetapi kadang cinta itu menyenangkan bagi pemenang. Orang sakit adalah dia yang ditolak, dia yang ditikung, dan dia yang ditinggalkan. Pemenang adalah dia yang cintanya terbalaskan, dia yang bertabur bahagia bersama pasangan, dan dia yang jauh dari derita dan kesedihan.
Bersabar dan bertabah adalah dua kunci sukses bagi jalan cinta yang rumit. Hidup tidak tentang hari ini saja, hari esok juga kehidupan walau tidak pasti bagaimana. Muhasabah diri kemudian perbaiki, itu yang paling penting.


Oleh Syaiful Hady*



* Alumnus Nurul Qarnain
 Santri Aktif Ma'had Aly Sukorejo.
           



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kucing Putih di Rumahmu

Untukmu Calon Menantu Ibu

Risalah Kecil Santri Sebelum Balik Pondok