Sebuah Lamaran



            Berbicara tentang ungkapan "lamar" atau lamaran maka tidak boleh tidak akan menyinggung tentang sebuah kometmen dua sejoli. Sebagaimana yang maklum bahwa lamaran pada umumnya dari si cowok kepada si cewek, tapi kalau dibalik juga tidak mengapa.
          Lamaran menempati posisi pertama sebelum terajutnya sebiji ikatan tunangan. Jadi dan batalnya pertunangan tergantung diterima atau ditolaknya proses lamaran. Di waktu dulu, lamaran bisa dilakukan kepada cewek siapa saja artinya tidak perlu saling kenal terlalu dalam antara dua sejoli yang akan bertunangan, cukup bertemu dengan si cewek di rumahnya dan sama-sama ada rasa ketertarikan maka tunangan pun bisa.
       Akan tetapi bercermin pada proses lamaran di zaman canggih sekarang, sependek pengetahuan penulis bahwa sedikit sekali lamaran berjalan mulus (diterima) jikalau dua sejoli tidak saling kenal, tidak pernah saling melontar sapa terlebih dahulu. 
   Kini, segelintir generasi muda suka menggunakan istilah “ta’arrufan” (saling mengenal). Maksud samanya, awalnya taarrufan kemudian berhubangan (pacaran) jika dianggap perlu dan terakhir baru tunangan.  Konsep ini sangat berbeda sekali dengan konsep nenek moyang kita dulu.
 Perlu dingatkan kembali, segala bentuk ikatan di dunia ini tidaklah paten. Seumpama ikatan tunangan, bisa selesai dengan hadirnya kata “putus tunangan”, sama dengan ikatan pernikahan pun akan usai dengan perwakilan kata “cerai”, dan ikatan-katan seru lainnya.
 Zaman ini, banyak memunculkan cowok-cowok berparas tampan dan melahirkan beberapa cewek cantik pula. Meski demikian, dalam masalah berani (jantel melamar) yakni datang ke pihak keluarga si cewek bukan hanya bagi cowok berparas ganteng, bukan diperuntukkan bagi cowok berdarah ningrat, dan bagi mereka yang berjiwa ciut.
Bagi para cewek yang baca tulisan ini, mohon digaris bawahi:

Lamaran itu teruntuk bagi cowok kurang tampan tapi dia berani datang, bagi cowok biasa tapi dia tidak gentar meminta kepada pihak keluarga, bagi cowok tidak kaya asalkan berani untuk menghadap keluarga wanita”.

Lamaran itu teruntuk cowok bersatus apa saja, bernasab ke siapa, berdiam di mana, intinya berani maka cowok itu adalah sejati

          Mari berjibaku  membuktikan bareng-bareng, kalau kita (para cowok) tidak pernah gentar apalagi takut untuk melamar.
Wassalam. Salam Hangat Santri Ma’had Aly



Oleh Syaiful Hady*




* Alumnus Nurul Qarnain
 Santri Aktif Ma'had Aly Sukorejo.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kucing Putih di Rumahmu

Untukmu Calon Menantu Ibu

Risalah Kecil Santri Sebelum Balik Pondok