Dosakah? Memilih Calon Sendiri
Di zaman
elit ini, para remaja-dewasa terpaksa untuk bersaing dan berlomba dalam hal
apapun, baik dalam bidang keilmuan, dunia bisnis, bahkan perjodohan. Semua serba
instan dan harus dilombakan jika ingin didapatkan.
Dalam
bidang keilmuan misalnya, para akademisi berlomba menjadi yang terbaik di antara
yang baik. Dalam dunia bisnis, para pembisnis beradu cakap untuk menuai laba
sebanyak-banyaknya. Dalam prihal jodoh pun masih beradu cepat tuk mendapatkan seseorang
yang dicinta.
Memang, tidak
dapat terelakkan zaman ini telah menjadi "zaman perlombaan". Nah, Dalam prihal jodoh, disamping
berlomba dengan orang lain untuk mengait seseorang yang dicintai, terkadang
saat menang pun masih berlomba untuk menaklukkan hati orang tua yang punya
pilihan lain.
Segala
kerumitan hidup di dunia ini begitu komplek saja, kenapa sampai begitu? Karena dalam
setiap sudut manusia dihimpit pelbagai masalah, masalah yang bervariasi adanya. Tidak
terkecuali masalah sentral seperti pilihan jodoh.
Islam
mempunya variasi aturan, di sana juga terdapat aturan yang bersifat instruksi
(perintah). Perintah untuk berbakti kepada orang tua selagi tidak
melenceng dari ranah kebaikan.
Namun
akan terjadi selarik problem tatkala printah dan harapan tidak selaras. Misal kita ada diposisi runyam ini, kita sudah berusaha membahagiakan orang
tua dengan kemampuan ekstra akan tetapi dalam masalah jodoh, orang tua masih ikut ambil bagian. Usut punya usut orang tua punya calon, kita juga punya simpanan calon.
Kira-kira berdosa atau sampai durhakah bila mengabaikan calon orang tua yang kita kasihi demi mempertahankan calon yang kita cintai?
Penulis
kira kalau masalahnya demikian, maka harus berlaku bijak. Seumpama, kalau pilihan orang tua lebih baik dari semua segi; keilmuan,
pendidikan, agama, dan nasabnya walau tidak secantik atau setampan calon kita, maka mantapkan niat dan
berupaya menerima calon dari orang tua lantaran cinta akan kadarluarsa sementara kasih sayang oarng tua abadi selamanya.
Kalau dalam hal ukhrawi dan duniawi, nyatanya calon kita lebih mantap maka kita harus melakukan konsep musyawarah dengan orang tua seinten mungkin. Sebab dalam membagun mahligai rumah tangga tidak cukup
dibangun berdua atas nama akar cinta, campur doa, dan kerelaan orang tua wajib dibuat penopang penyangga.
Wassalam…Salam Hangat Santri Ma’had Aly
Oleh Syaiful Hady*

Komentar
Posting Komentar