Dimmah Bekalah?
Mugkin saja, bagi sebagian kita yang sudah tidak
berumur jagung lagi, di setiap perayaan lebaran berupa hari berlangsungnya maaf-memaafkan,
akan terlempar secuil tanya “Mana tunanganmu?” atau bahasa Madura “Dimmah
bekalah be’en?”. Pertanyaan ini pasti dialami oleh kita secara mayoritas
termasuk santri.
Berasal
dari judul tema ini, penulis teringat akan sebuah momen tidak terlupakan saat
menjadi narasumber tunggal di gedung sekolah jember. Kebetulan waktu itu, topik yang dihidangkan tentang “Tunangan; Modus Pacaran Yang Dihalalkan?”.
Acara
yang menjadi agenda Buletin Gamis I’dadiyah setiap pulangan Pondok Pesantren
Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, disambut hangat oleh para penikmat Buletin Gamis. Terbukti setiap berlangsung acara seminar Gamis di pelbagai tempat, dari sukarelawan dan pengagum Gamis sejati begitu berpatisipasi datang memadati acara.
Salah
satu pertanyaan yang direspon waktu itu “tentang perbedaan
pacaran dengan tunangan atau khitbah”. Yang kemudian dijawab, “Pacaran
dan tunangan perbedaannya hanya terletak pada restu legal orang tua”.
Sungguh
jawaban di atas untuk masa sekarang kayaknya hampir betul, mengingat penjalin ikatan tunangan terkesan menyepelekan hal-hal dosa nikmat berdua.
Nah,
kembali ke judul besar “dimmah bekalah?”. Pertanyaan ini bermuara
kepada dua aliran pemahaman berakar. Pertama; istifham ingkari (pertanyaan dibuat-buat
demi menstimulus biar cepet tunangan, padahal penanya paham bahwa objek yang ditanya masih jomblo). Kedua, istifham saja (bertanya karena tidak
tahu) dan poin kedua ini jarang terjadi.
Korelasi
antara perbedaan pacaran dengan khitbah dan tanggapan sederet kata “dimmah
bekalah?” biar tidak tertanam pemahaman keliru berupa pacaran
sederajat dengan ikatan tunangan. Dianggap keliru sebab islam berbincang tentang
tunangan, pembahasan terkait pacaran berkutat pada aktifitas keji di bawah payung ikatan pacaran itu.
Dengan
korelasi agak nyelenih ini, jika ada sebuah pertanyaan “Dimmah bekalah?” Maka kita harus
pandai introspeksi diri walau tanpa menggubris lontaran tanya dengan serius.
Kita paham betul bukan! Tunangan memang tidak harus, namun saat kita merasa matang menjalin ikatan rela keluarga (tunangan), kondisi tidak sibuk belajar, tidak sedang
menunggu tamat kuliah, dan kesibukan mulia lainnya. Bagi cowok, mantapkan diri untuk berani. Sedangkan
bagi cewek, tancapkan doa kepada Ilahi. Wassalam.
Salam Hangat Santri Ma’had Aly
Salam Hangat Santri Ma’had Aly
“Hidup di dunia ini tidak hanya tentang kita tetapi
juga tentang orang tua, keluarga, dan seseorang yang kita juluki sebagai dia”.
Oleh Syaiful Hady*

Komentar
Posting Komentar