Wajah Pesantren Mencetak Generasi Bangsa Indonesia Keren
Beberapa dekade terakhir pesantren
modern mulai bermunculan dengan warna dan corak berbeda-beda, baik di berbagai
daerah pedesaan, perkotaan maupun pinggiran kota yang sedari awal sepi dari
bangunan islami pesantren. Dan kini sudah tersesaki oleh banyaknya bangunan islami yang
disebut sebagai pesantren. Hal ini selaras dengan
pernyataan dari Ahmad Zayadi selaku direktur pendidikan diniyah serta pondok pesantren
kementerian agama yang namanya kesohor itu "Pesantren yang
dipercayai oleh bangsa-negara bakal melahirkan emberio generasi yang tidak
hanya mapan dalam kancah tingkah lakunya, pesantren juga dituntut menjelmakan generasi
yang berilmu pengetahuan lagi berkualitas".
Pesantren dengan wajah baru telah
datang di tengah-tengah keberagaman penduduk indonesia. Kalau pesantren klasik sebatas
memfasilitasi pendidikan informal (ilmu yang berkaitan dengan ukhrawi atau yang
buming dikatakan dengan ilmu agama), seperti siang dan malam santri hanya diasupi
dengan beberapa kitab turats saja. Sekarang pesantren modern sudah memenuhi
kebutuhan para generasi muda, pesantren yang tidak hanya mengadakan pengajaran
ilmu agama akan tetapi juga menyalurkan ilmu dunia kepada para santrinya. Walau
demikian, perlu kita tengarai bahwa segala fan ilmu di dunia ini bersumber
kepada satu yakni Allah, tidak benar dipahami ilmu dipetakan kepada ilmu
agama dan umum meski klasifikasi ini sudah menjadi lumrah di sisi masyarakat.
Pesantren
hadir berangkat dari keperihatinan terhadap generasi bangsa yang tertampar oleh
gemerlap dunia dan terperdaya oleh racun dunia hingga lupa diri bahwa mereka adalah
makhluk beragama dan lupa untuk merasa malu melakukan tindakan asusila. Pesantren hendak merangkul dengan
cara menyediakan dan melengkapi sarana ilmu umum. demi mengantisipasi kelakuan generasi muda yang semakin melenceng dari aturan pancasila terlebih tuntunan agama. Jika generasi mudanya sampai berprilaku tidak karuan akan seperti apa negara akhirnya? Mengingat maju dan berkembangnya suatu
negara sangat bertumpu kepada kaula mudanya.
Oleh karena itu, berbagai pesantren indonesia
di era modernisasi ini, tidak hanya sekadar memfasilitasi ilmu pokok (agama)
namun juga menyediakan sarana-prasarana yang nyaman bagi para santri untuk menimba
ilmu dunia. Ambil contoh; telah tersedianya jenjang pendidikan formal seperti SMP, SMA, Sekolah Tinggi, dan yang sederajat bahkan Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin telah meresmikan
13 Ma’had Aly se-indonesia pada tanggal 30 mei 2016 (Perguruan Tinggi Keagamaan Berbasis Pesantren). Yang mencakup Ma’had Aly salafiyah
Syafi’iyah Situbondo (Jatim), program takhasus “Fiqh dan Ushul Fiqh” (Fiqh wa Ushuluhu). Dimunculkannya 13 Ma'had Aly semata untuk keseimbangan bagi generasi muda dalam memahami lebih mendalam
ilmu agama yang diperah dari kitab kuning dan mendalami ilmu
umum yang harus menjadi bekal dalam mengarungi kehidupan yang penuh dengan
tantangan ini.
Secara majemuk pesantren
adalah satu-satunya tempat yang bercita-cita untuk mencetak kader-kader ummat sebagai ulama’ yang dibanggakan nusa, bangsa, dan negara. Tidak ada tempat
yang indah dan pripurna seperti pesantren (bagi kami anak pesantren). Di pesantren
banyak aktivitas positif yang berkisar pada pengajian, pembelajaran, khidmah, dan kegiatan bernuansa agama lainnya, seumpama setiap hari setelah ashar
terjadwal baca do'a ratibul haddad, shalat fardhu harus
berjamaah, wajib bertahajjud jamaah. Sementara di waktu malam, santri
dituntut pula senantiasa bermunajat dengan melantunkan do’a kepada sang pemilik
dunia, entah melalui berdzikir ataupun pengamalan yang lain. Tiada tempat
sempurna selain pesantren untuk dijadikan wadah dalam hal mencari, mengumpulkan
serta mengkonsumsi ilmu sebanyak-banyaknya, pesantren sebagai tempat bersemedi
untuk menata prilaku dan tata krama baik, pesantren mengajari santri menyanyangi
yang lebih muda dan menghormati yang lebih tua. Inilah cover pesantren sesungguhnya, dengan
demikian bukankah generasi muda lebih terjamin masa depannya?
Pesantren janganlah diklaim sebagai
satu-satunya tempat yang hanya menyodorkan ilmu pengetahuan semata tanpa ada
semacam pengemblengan seperti di awal pembahasan tadi, kini pesantren bukanlah
tempat yang hanya menampung santri mengaji, tidak sesederhana itu gayah maksud pesantren. Pesantren menyiapkan para santri dengan pelbagai bekal ilmu sebelum terjun
di masyarakat agar saat pulang santri tidak galau dan bingung untuk melakukan
kegiatan kemasyarakatan. Demikianlah prinsip dan realita yang menjadi ciri khas
pesantren ketimbang pendidikan non pesantren.
Secara pribadi tulisan
ini tidak hendak membandingkan pesantren dan non pesantren karena keduanya (pesantren
dan pendidikan formal) sama-sama mempunyai gayatul maksud yang tidak jauh
berbeda. Yang tujuannya adalah mengkader remaja-dewasa yang relevan dengan
cita-cita bangsa dan negara. Catatan ini lebih spesifik hendak memvisualisasikan
dan mengenalkan kepada khalayak ramai bahwa pesantren yang awalnya dituding
sebagai tempat yang sakral, kumuh, kenyataanya dapat melahirkan santri berkualitas
walau santri selalu terkungkung, terjerat, dan terhambat untuk berkarya, namun para santri masih mampu untuk bersaing dengan siswa maupun para mahasiswa
di luar pesantren yang kaya dengan ilmu pengetahuan dunia. Santri selalu
bercermin kepada alumi pesantren yang berkualitas dan mendulang namanya semisal Habiburrahman El Shirazy penulis
nomor satu di Indonesia yang dinobatkan oleh INSANI UNDIP AWARD pada tahun 2008. Konon beliau pernah mondok di Pesantren Al Anwar, Mranggen, Demak di bawah asuhan K.H.
Abdul Bashir Hamzah. Ahmad Fuadi sang penulis novel ternama Negeri Lima Menara (alumni Pondok Pesantren Gontor), Ali Alatas seorang dokter dari Pesantren
‘Assalam Al-Islami’ desa Sri Gunung, Sungai Lilin, dan alumni-alumni hebat lainnya.
Meski begitu, dalam
kesempatan yang sama pendidikan di luar pesantren kini sedang berlomba mendirikan gedung megah untuk menampung
para pencari ilmu pendidikan baik status siswa maupun mahasiswa. Pesantren tidak mau kalah saing, apalagi tanggal 22 oktober sudah dilegalkan hari santri nasional. Gelar ini menjadi cambuk bagi semua pesantren
seantero Indonesia untuk lebih memajukan pesantren tidak hanya dalam kancah struktur bidang ilmu
tetapi juga dalam infra struktur bangunan tempat para santri berkumpul mencari ilmu. Dengan
begitu kaum santri akan mantap dan yakin bahwa hidup
dan nyantri di pesantren merupakan hal yang luar biasa.
Sementara alasan kenapa
generasi muda harus memerlukan ilmu agama dan umum, sebagaimana sudah maklum sebuah maqalah “mempelajari
ilmu agama tanpa ilmu umum maka akan pincang, begitu pula mempelajari ilmu umum
dan mengenyampingkan ilmu agama maka akan buta”.
Maksudnya kata pincang di sini, bukanlah pincang secara tabiat seperti pincang
kaki melainkan kata pincang tersebut berarti ketidakseimbangan hidup,
terombang-ambing, terseok-seok menjalani hidup sebab ilmu yang
tertancap di relung hati tidak mampu menjawab tantangan dunia ini. Sedangkan yang dikehendaki dari arti buta yakni
bukan buta mata melainkan buta mata hati selaras dengan lagu bung Roma Irama (Raja Dangdut Indonesia).
Di era reformasi yang kaya dengan
kecanggihan ini, tentu tidak cukup kalau remaja-dewasa indonesia hanya bermodalkan
pengetahuan dan tidak bermoral sebagaimana makna hadist "yang dinilai
pada diri seseorang adalah etikanya". Meski secara hakikat mengukur
etika seseorang bukanlah semata-mata dia lulusan pondok mana, atau lulusan
sekolah sarjana di mana, semuanya dikembalikan kepada pribadi masing-masing dan
penilaian masyarakat sekitar.
Hari ini tentu berbeda dengan hari
di mana para nenek moyang kita hidup dengan mengandalkan otot-otot mereka. Yang itu dilakukan hanya demi mengganjal perut yang kerontongan kelaparan.
Masa yang berbeda tentunya menuntut hal yang tidak sama, kalau di masa nenek
moyang tidak perlu sekolah, menikah muda, bekerja keras tentu semua itu hal
yang biasa karena waktu silam itu masih tidak ada pendidikan formal maupun
informal hanya sebatas arahan dan ikut ceramah para ahli ilmu seperti masa
Rasulullah SAW. Namun di fase sekarang, kala bangunan megah pendidikan menjulang, anak didik haruslah dipaksa menuntut ilmu maka selayaknya sebagai ummat
Muhammad yang bijaksana tidak rela jika generasi muda yang diidamkan malah berwujud
generasi muda yang mengecewakan dengan menjadi pengangguran.
Sudah saatnya kita memikirkan dengan
serius tentang kondisi prihatin ini, orang tua harus menanggapi
prihal tingkah laku para remaja-dewasa yang melenceng dari
aturan-aturan norma. Memang kalau dibandingkan antara tingkat pendidikan dengan
kancah pengangguran dari waktu ke waktu, generasi muda yang berpendidikan masih mendominasi. Namun lagi-lagi kita akan merasa frustasi, gamang dan
kecewa tatkala melihat para kaula muda yang berpendidikan ternyata masih konsisten
melakukan pelanggaran negara maupun pelanggaran agama. Pelanggaran negara
seperti ngebut-ngebutan di jalan lalu lintas, mengedarkan narkoba, mencuri, dan
semisalnya. Sedangkan pelanggaran agama seperti zina, tidak shalat, dan seterusnya
yang semua keresahan dan tindakan ini selalu diasumsikan kebiasaan para remaja
now sekarang.
Seakan sangat rutin sekali kita sebagai
bangsa indonesia disodorkan berita atau koran yang berisi permasalahan ektrim pemerkosaan,
pelecehan seksual, pencurian, KKN (Korupsi, kolusi, dan nepotisme) serta segudang
polemik yang mencekam. Siapakah yang patut kita salahkan?.
Nah Sekarang bukan saatnya saling tunjuk, bukanlah antara siapa yang benar dan siapa yang harus salah, mari saling berjibaku mencari alternatif dan memikirkan dengan serius serta mencari solusi, bagaimana problema yang terjadi di kalangan para pemuda harapan bangsa ini dapat teratasi atau minimal terminimalisir.
Nah Sekarang bukan saatnya saling tunjuk, bukanlah antara siapa yang benar dan siapa yang harus salah, mari saling berjibaku mencari alternatif dan memikirkan dengan serius serta mencari solusi, bagaimana problema yang terjadi di kalangan para pemuda harapan bangsa ini dapat teratasi atau minimal terminimalisir.
Dengan melestarikan
pesantren, memondokkan generasi impian bangsa demi menanggulangi pelbagai
masalah kemelut remaja hari ini dan nanti. Pesantren tidak pernah menutup menerima calon santri, pintu gapura pesantren senantiasa terbuka lebar,
pesantren menjamin putra-putri bapak, misi dan visinya bertujuan untuk membuat para remaja-dewasa diakui oleh bangsa
maupun negara pada akhirnya. Dan di pesantren para
remaja-dewasa akan terhindar dari tudingan "sampah masyarakat, cacian
miring, serta penilaian negatif masyarakat" Karena di
pesantren putra-putri bapak akan terjaga lahir maupun batinnya. Mari ujarkan
bersama "hidup pesantren, maju generasi indonesia keren". Waallahu a'lam. Salam Santri Ma’had Aly.
Oleh Syaiful Hady*

Komentar
Posting Komentar