Ramadan Bagai Mimpi
Sebagaimana yang dipahami selama ini bahwa Ramadan merupakan bulan penuh berkah, penuh rahmat, dan segudang hamparan kasih sayang. Pokoknya Ramadan paling utama ketimbang bulan-bulan yang lain seumpama Nabi Muhammad termulia daripada nabi-nabi lain. Di bulan Ramadan, Pahala digandakan, dosa pun dihapuskan. Begitulah bentuk kasih sayang Allah kepada umat Nabi Muhammad tercinta.
Dalam bulan Ramadan, umat nabi Muhammad tentu masih tersibukkan dengan agenda sesak nan padat. Agenda kegiatan padat yang terkadang menghambat laju puasa, salah satu contohnya pekerja berat. Belum lagi agenda padat tapi rentan tetap berpuasa berupa agenda reuni antar teman sekolah, reuni antar teman pondok, bahkan reuni antar teman alumni perkuliahan.
Kalau kita mau menelisik secara sadar, di bulan Ramadan ini, kita banyak mengukir kenangan; baik dengan teman maupun bersama keluarga tersayang. Buka bersama (buber), sahur bersama (saber), menunaikan shalat tarawih sunah berjamaah, dan bentuk ibadah-ibadah agung lainnya.
Di bulan Ramadan ini, seolah-olah pahala begitu deras membanjiri kita bak hujan di musim semi. Hal ini dibuktikan sabda Nabi :
“Siapa saja yang mendekatkan diri kepada Allah dengan perbuatan baik (sunah/mandub) pada bulan Ramadan, (ia diganjar pahala) sama seperti menunaikan suatu kewajiban (fardu) pada bulan yang lain. Siapa saja yang menunaikan kewajiban (fardu) di bulan Ramadan, (ia diganjar pahala) sama dengan orang yang mengerjakannya 70 kali kewajiban tersebut di bulan yang lain”. (H.R. Imam Ibnu Khuzaimah).
Hadis ini menginformasikan bahwa tidak hanya perbuatan sunah yang pahalanya berlipat, salat wajib yang dikerjakan sendirian (tidak berjamaah) juga digandakan menjadi 70 lipat. Coba bayangkan! Berapa jumlah pahala salat wajib jika dikerjakan secara berjamaah?
Kini Ramadan sudah di ujung tanduk, tinggal menghitung jari, Ramadan akan kembali terwujud sebagai kenangan, walau Ramadan akan datang, sebelas bulan ke depan. Bagi kita yang senantiasa merindukan Ramadan, sudah barang tentu tidak menginginkan Ramadan pergi lagi. Karena saking cinta ke bulan ini, bahkan sebagian dari orang sepuh-renta sempat berucap jujur “jika boleh memilih ingin meninggal di bulan penuh kesucian ini”.
Kini Ramadan sudah di ujung tanduk, tinggal menghitung jari, Ramadan akan kembali terwujud sebagai kenangan, walau Ramadan akan datang, sebelas bulan ke depan. Bagi kita yang senantiasa merindukan Ramadan, sudah barang tentu tidak menginginkan Ramadan pergi lagi. Karena saking cinta ke bulan ini, bahkan sebagian dari orang sepuh-renta sempat berucap jujur “jika boleh memilih ingin meninggal di bulan penuh kesucian ini”.
Sungguh tiada bulan yang lebih agung dari bulan Ramadan ini. Walau ada realita lucu di sekitar kita. Sebut saja, jika saat Ramadan hendak menyapa, kita begitu antusias dan ramai tertawa, namun saat Ramadan hendak pergi lalu mengapa sulit sekali mengeluarkan tangis dan rasa iba?
Bahkan di luar sana, segilintir orang sehat sempurna dengan sengaja tidak berpuasa, berleha-leha makan dan minum sesukanya, seakan-akan lupa kalau di sekitarnya ramai orang sedang bermesraan dengan bulan puasa. Bahkan yang paling parah, mereka makan secara terang-terangan di depan umum tanpa ada rasa malu menggunung.
Kita tahu diri bukan, tiada orang yang meninggal gara-gara berpuasa Ramadan?. Lebih lagi, Ramadan begitu baik kepada kita. Lalu kenapa, mungkin lebih tepatnya saya pribadi, kurang peduli dan tidak respon membalas kebaikan Ramadan dengan beramal baik sebanyak-banyaknya untuk Allah semata?
Kita tahu diri bukan, tiada orang yang meninggal gara-gara berpuasa Ramadan?. Lebih lagi, Ramadan begitu baik kepada kita. Lalu kenapa, mungkin lebih tepatnya saya pribadi, kurang peduli dan tidak respon membalas kebaikan Ramadan dengan beramal baik sebanyak-banyaknya untuk Allah semata?
Wahai Ramadan, maafkan diri ini
Wahai Ramadan, jangan pernah ada
Wahai Ramadan, jangan pernah ada
rasa kecewa dan tetaplah datang lagi.
Wahai Ramadan, jika hari ini kami masih kurang menghargaimu, esok akan kami coba lagi.
Wahai Ramadan, terima kasih atas semua yang telah kau persembahkan kepada kami.
Wahai Ramadan, kami memang tidak bisa menangis atas kepergianmu sebagai gantinya kami akan terus meningkatkan amal kami di bulan-bulan selanjutnya.
Wahai Ramadan meski Kau bagaikan mimpi tapi kami tidak akan pernah lupa tentang kebaikanmu dalam hal; membuat pahala ganda dan dosa-dosa dibuat binasa.
Terima kasih banyak Ramadan...

Komentar
Posting Komentar