Pacaran Ikhtiari dan Jodoh Misteri

Sebutan “pacaran” sering dikonotasikan kepada perkara yang kurang sedap didengar menurut kacamata masyarakat islami. Pacaran lebih berorentasi kepada tindakan yang sampai kapan pun tidak mendapat tempat dalam islam. Sementara sebutan “Jodoh” senantiasa beridentik dengan ikatan pernikahan. Ya pernikahan yang mulia dan mendapat rido yang Esa.
Terkait dengan tema fenomenal ini bahwa pacaran bersifat ikhtiari artinya pilihan sedangkan jodoh bersifat misteri bermakna tidak dapat diperhitungkan hanya tuhan yang memastikan. Terus, apakah benar saat lelaki dan perempuan menikah dia berjodoh? Apa ujaran jodoh sekedar terikat pernikahan di dunia meski tidak jodoh di akhirat? Bagaimana lantas kalau di dunia pacaran tapi di akhirat tidak bertemu selamanya? Nah, sebelum merespon variasi pertanyaan tersebut, mari terlebih dahulu berbincang-bincang sedikit tentang pacaran yang bisa jadi jodoh.
Kita ngerti bersama-sama, tulisan tentang pacaran dari zaman alif sampai zaman sekarang, sudah sangat banyak. Dan bagi para lelaki dan perempuan yang hendak menjalani ikatan serius akan males untuk membaca ulang oretan tentang pacaran itu. Di samping kontennya berkisar kepada pembahasan tentang aktifitas pacaran ditambah pemaparan dengan tema pacaran agak jadul meski lontennya senantiasa terupdate.
Jodoh seumpama kematian yakni sama dalam hal misterius.
 misterius dalam arti maklum. Nah kata jodoh itu terklasifikasi menjadi tiga warna: Pertama, jodoh di dunia (ikatan pernikahan). Kedua, jodoh di akhirat meski di dunia tidak pernah bersua dan berkumpul bersama. Ketiga, jodoh dunia dan jodoh di akhirat. 
Agar ikatan pacaran yang sudah kadung dijalani, bisa berjodoh maka harus ada komitmen teguh dari kedua sejoli atau minimal melaju ke tingkat agak serius (tunangan). Apabila yang diharapkan berjodoh di akhirat, maka minimal wajib mengikuti aturan islam berupa menjalankan intruksi Allah serta meninggalkan larangan-Nya. Karena jodoh di akhirat akan sulit terealisasi bagi sejoli yang gemar berbuat dosa dan suka membuat Allah murka. 
Dan andai yang diinginkan berjodoh dunia dan akhirat sekaligus maka harus lebih extra lagi, perlu ada keseimbangan antara harapan dan perbuatan. Maksudnya harapan ingin menikahi harus dilakukan dengan cara-cara benar sebagaimana pedoman tertulis dalam islam tentang pernikahan. Dan setelah menjalani ikatan pernikahan, kedua suami dan istri saling bahu-membahu, saling topang, bahkan bersaing berbuat kebaikan. Berlomba dalam meninggalkan kejelekan serta berupaya menunaikan tanggungan salat wajibnya. Tidak lupa untuk kerap berdoa kepada Allah semata.
Kita pasti berharap lelaki/perempuan yang kita cintai adalah jodoh kita dunia dan akhirat. Semoga harapan itu dapat menjadi jembatan bagi bisikan doa-doa kita. Dan semoga ulasan sedikit ini, dapat menjawab kegelisahan para pembaca budiman.
Wasalam...Salam Hangat Santri Ma'had Aly



Oleh Syaiful Hady*




* Alumnus Nurul Qarnain
 Santri Aktif Ma'had Aly Sukorejo.





Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kucing Putih di Rumahmu

Untukmu Calon Menantu Ibu

Risalah Kecil Santri Sebelum Balik Pondok