Merekonstruksikan Rihlah Jomblo Demi Generasi Ideal

Acapkali ujaran kebencian memang sengaja didaratkan kepada kaum jomblo oleh oknum-oknum yang kurang senang kepada status yang namanya “sendirian”. Sampai-sampai ada yang sampai berujar bahwa jomblo merupakan status yang dikutuk masa depan. Tidak cukup dengan lontaran kata pahit itu. Juga ucapan kebencian yang buming bagi kaula muda now berbentuk jargon Dasar Jones (Jomblo Ngenes)”. Nah, slogan-slogan pendek ini, tentu memberikan suntikan sakit kepada para lajang di seantero dunia termasuk penikmat lajang di negara indonesia secara plural.
Jika dianalisa secara mendalam ihwal generasi muda bangsa indonesia saat ini, maka kita akan terperanjat ngeri. Mengapa sampai segitunya? Ya, kalau kita membuka mata secara lebar berkenaan dengan sebagian prilaku-prilaku generasi mudanya. Pelbagai prilaku/tindakan yang mencerminkan urusan kaum muda yaitu pemuda yang seakan-akan sedang tertipu oleh jeratan pernak-pernik dunia hingga mengantarkannya melakukan jalinan ikatan ilegal versi syariat islam dan norma. Ikatan yang berkonotasi kepada laknat dan kecaman perbuatan asusila negara. Seumpama pacaran ala barat, maka pacaran dengan format ini wajib dihindari.
Generasi yang baik adalah dia yang bergegap-gempita mempersiapkan segala kemungkinan yang akan terjadi di fase tua dengan menimba ilmu-ilmu berguna dalam langkah hidupnya. Bukan generasi yang justru termasygulkan dengan tindakan-tindakan yang menjurus ke jurang kemaksiatan pada endingnya.
Dengan kesadaran generasi harapan tersebut tentunya label jomblo akan dibangga-bangga, tidak akan dicemoh ataupun dicela. Sandiaga Uno, agaknya telah menyampaikan planing jitu berupa rencana untuk menerbitkan kartu jomblo (KKJ), dan bahkan inisiatif itu disambut hangat oleh para lajang serta menjadi angin segar buat mereka yang tengah berstatus sendirian.
Berangkat dari fenomena getir di atas, penulis terpanggil untuk menampilkan lagi memaparkan beberapa negara yang peduli terhadap para lajang (jomblo). Negara mana sajakah itu?
Negara Cina
Negara yang diresmikan dengan nama Tiongkok pada tanggal 24 November 2016 lalu. Negara yang menuai rangking pertama dalam hal penduduk terbanyak di dunia dengan populasi 1.379.302.771 jiwa. Tidak disangka, negara pesat dan berkembang seperti negara cina, memiliki kepedulian sosial yang tinggi terhadap ahlud Daulah (penduduk negaranya) yang terkungkung status jomblo. Kepedulian negara cina itu, dibuktikan dengan digelarnya sebuah perayaan bernama Single’s Day (hari tunggal) untuk para lanjang. Yang dalam format perayaan tersebut, para jomblo difasilitasi pelbagai diskon saat berbelanja baik masal maupun online di toko atau indomaret tertentu di negara tersebut.
Negara korsel (Korea Selatan)
Perayaan atau rihlah khusus untuk para lajang di korsel terjadi pada tanggal 14 april membedai penggelaran pesta-pora di Negara Tiongkok. Pesta yang dihelat dan masyhur dengan panggilan black day (hari hitam) bertujuan semata-mata untuk menghilangkan rasa sedih-gamang di hati jomblo. Pentasbihan perayaan black day tidak berarti menjelma kepada nuansa yang seram. Hanya namanya saja begitu, karena dalam acara tersebut diramaikan hal-hal yang luar biasa, sesama jomblo mengenakan busana serba hitam saat pesta perayaan, disajikan menu makanan mie berwarna hitam ciri khas korea/jajangmyeon, dan bentuk pelayanan menyenangkan lainnya.
Negara Amerika Serikat
Siapa sangka, negara Republik Konstitusional Federal yang terbentang di benua amerika utara itu, juga mengindahkan akan kondisi generasi jomblo yang miskin asmara. Yang kalau dipersentasikan jomblo di negara besar tersebut mencapai 28% jiwa, meski masih berada di bawah para jomblo di jepang yang berkisar 31% jiwa.
Konon, Single Awareness Day (hari kesadaran tunggal) merupakan pesta yang dikhususkan untuk kaum sendirian/jomblo. Awalnya pesta tersebut hanya dibuat seru-seruan belaka. Namun akhirnya, acara tersebut menjadi adat, kebiasaan, dan disahkan pada tanggal 15 februari. Dalam agenda acarat, para jomblo berkumpul dengan keluarga maupun temannya untuk melakukan traveling ke negara brazil.
Nah, jika di negara luar sedang semaraknya pesta untuk klan jomblo. Mengapa kemudian para jomblo di indonesia sendiri merasa kecewa atau sesal atas statusnya? Padahal dengan berstatus lajang akan lebih tenang, lebih nyaman, dan lebih semangat melakoni aktivitas kehidupan di hari-hari mendatang.
Berbanggalah bagi yang berstatus jomblo karena dapat terhindar dari variasi kemaksiatan dan dosa. Juga mendapat kasih sayang ganda dari Allah yang esa. Bersabarlah, jodoh tidak akan ke mana-mana. Jika waktunya tiba maka jodoh tidak akan tertukar dengan jodoh yang lainnya. Sebagaimana firman Allah, “Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir.” (QS Ar Rum : 21).
Akhirul kalam, mudah-mudahan di tahun 2019 sekarang, pemerintah negara Indonesia sudah bisa memberikan semacam sumbangsih perayaan positif yang khusus untuk jomblo terutama generasi mudanya, menyediakan sarana prasarana yang dibutuhkan seperti tunjangan pendidikan jomblo. Dan seandainya perayaan jomblo dapat direalisasikan sebagaimana negara-negara besar yang telah disebutkan, besar peluang negara indonesia dapat merekonstruksikan generasi muda pilihan yang menjunjung norma negara dan agama. Amin ya rabbal alamin.


Oleh Syaiful Hady*



Alumnus Nurul Qarnain
Santri Aktif Ma’had Aly Sukorejo

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kucing Putih di Rumahmu

Untukmu Calon Menantu Ibu

Risalah Kecil Santri Sebelum Balik Pondok