Membuat Surga Rindu
Berangkat dari tema ini, penulis teringat akan sebuah cerita islami tentang seorang sahabat nabi bilal bin rabah dengan terompah setianya. Terompah
atau jepit yang biasa dikenakan saat beribadah kepada Allah yang Esa. Terompah yang
menjadi saksi bisu perbuatan mulia sahabat dekat nabi bersuara syahdu. Syahdan, sebelum sahabat nabi ini meninggal, bunyi dari
terompahnya sudah terdengar di surga oleh Nabi Muhammad S.A.W.
Dan mungkin cerita sejarah islam
terkait 10 para sahabat nabi yang dijamin masuk surga sudah populer didengar
bagi kalangan seperti kita seumpama Abu Bakar ash-Shiddiq, Umar bin Khattab,
Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, dan sahabat tercinta nabi yang
lain. Sehingga penulis tidak usah meneritakan ulang.
Hemat penulis dalam perbincangan hangat ini tidak perlu membahas ataupun
meramu cerita 10 sahabat nabi itu secara panjang mendalam, sebab lebih
urgen mencari serta mempraktikkan trik serta solusi yang membuat
surga sampai hati merindukan kita sebagai makhluk hidup di zaman
penuh gejolak pahala dan dosa ini.
Nah, mari kita mulai merapatkan pemahaman
bahwa tidak semua amal perbuatan yang kita anggap baik dapat membuat surga
merindukan kita. Kita yang terkadang salatnya bolong-bolong, salat subuh
sering terlaksana saat mentari tersenyum, bahkan salat-salat sunah sering
diabaikan. Maka jika bercermin kepada amal abal-abal kayak gini pastinya surga
bukan justru merindu.
Dugaan penulis untuk sementara, menyesuaikan
dengan zaman edan ini, tidak lagi berdebat tentang amal baik besar yang
dilakukan atau amal buruk besar yang sudah ditinggalkan, melainkan mulai
fokus terhadap rasa ikhlas kita melakukan intruksi Allah, rasa rela terhadap ketentuan dan semua larangan-Nya.
Penulis pernah mendengar, konon di waktu
silam. Hiduplah seorang ulama’ yang sangat alim, sangat wara’, sangat tekun
menjalani ibadah baik mahdah maupun ghairu mahdah.
Akan tetapi tidak terduga saat ulama’ tersebut hendak dimasukkan ke surga.
Bukan amal-amal besar seperti tekun ibadah yang menjadi perantara masuk surga melainkan
kebaikannya membiarkan seekor lalat meminum tinta pena miliknya
di saat serius mengarang kitab.
Berangkat dari sejarah islami ini tentu
tergapai suatu pelajaran berupa keharusan melaksanakan aktifitas dengan penuh
kerelaan, di samping tidak perlu memandang apakah perbuatan yang tengah ditunaikan berpahala besar atau kecil. Karena kita sama-sama tidak paham amal
mana yang akan diterima, kita pun tidak ngerti amal shaleh apa yang akan
membawa kita kepada surga nanti.
Lebih inti, teruslah bersemangat dengan
beramal baik, jangan sampai kendor, senantiasa benahi diri, karena hanya ini
yang bisa kita lakukan; saling menasehati tanpa jemu dan berbangga diri.
Waallahu A'lam
Salam Hangat Santri Ma’had Aly
Santri Aktif Ma'had Aly Sukorejo.
Komentar
Posting Komentar