Korelasi Interpretasi Mimpi Melalui Qur'ani
Menurut
hemat penulis kekurangpedulian golongan masyarakat tidak jauh melenceng karena memposisikan
mimpi hanya sebatas bunga tidur yang tidak urgen dipersoalkan, dan akan menyita
waktu luang saja dibicarakan. Coba renungkan! Waktu dan tenaga tersita jika masih disibukkan dengan mencari makna mimpi itu.
Mungkin termasuk kita sendiri merasa bahwa mimpi unfaedah. Padahal andai kita atau
masyarakat secara plural dapat mengetahui akan adanya refleksi dari sebuah mimpi
niscaya tak menutup kemungkinan akan ada gurat keheranan di raut wajah mereka karena mimpi yang awalnya dianggap tidak bermanfaat tapi justru berkaitan
erat dengan tindak-tanduk aktivitas hidup di alam nyata. Kita patut bersyukur di era modernisasi sekarang masih banyak
para alim, cendekiawan, dan santri. Kita tinggal bertanya pada mereka akan makna
mimpi kita karena tidak sembarang orang mengetahui artinya.
Kalau bisa kita berupaya berprilaku bijak. Bijak dalam maksud mendahulukan para
alim yang dianggap paham akan makna mimpi seperti kiai
daripada media sosial. Dengan pertimbangan matang bahwa media sosial merupakan solusi
akhir dari penyelesaian makna mimpi jika sudah tidak sanggup mengorek berita
dari sumber terpercaya.
Dewasa
kini di media cetak, terdapat pemasaran buku dengan judul “Tafsir Mimpi”
dan hal ini telah banyak beredar serta dipublikasikan, akan tetapi terdapat
sisi kekurangannya hingga menyebabkan informasinya tidak valid. Mengapa demikian?
Karena foto atau gambar yang terselipkan di buku itu merupakan foto vulgar, foto
perempuan berpakaian tipis, dada sedikit terbuka, warna kulit terlihat
mempesona, dan penuh dengan sensasi aduhai lainnya. Kalaupun dalam satu satu sisi polesan foto tadi sukses memikat para pembaca untuk
melahap tulisannya. Apakah mungkin, interpretasi arti mimpi di atas kertas putih dengan
aneka foto vulgar itu dapat dipercaya atau sebatas ilusi fatamorgana? Tentunya kita tidak akan percaya begitu saja bukan!
Dari
kasus di atas, telah jamak diketahui, hampir seluruh penduduk di indonesia bersepakat
pada sebaris slogan “Mimpi adalah Bunga Tidur”. Tidak heran kalau sampai demikian karena warganya terkadang suka akan hal-hal yang berbau mistis dan
misteri seperti mimpi. Maka sangat
mungkin sekali mimpi menjadi obrolan yang sebatas diperbincangkan.
Berangkat dari satu intuisi bahwa semua
manusia, siapapun, dan apapun statusnya pasti pernah bermimpi meskipun insan itu
masih bayi. Secara logika saja, tidak rasional
jika Allah menciptakan mimpi tanpa ada makna di balik kehidupan ini.
Di masa hidup Muhammad bin Sirin bin Abu Bakar al-Anshori. Lahir
di Basra pada 33 AH (653 M), satu masa dengan khalifah
Ustman bin Affan, dan meninggal pada 110 H (729 M). Beliau yang
populer dan tenar dengan julukan Ibnu Sirin, harus menunaikan paksaan
dan
bujukan
tetangga untuk menginterpretasikan mimpi. Syahdan, dari desakan itu
lahir sebuah karya yang fundamental “Tafsir Ahlam” sampai priode sekarang. Dalam kitab ini, Beliau memaknai mimpi
dengan melalui alquran, segelintir contohnya; mimpi melihat neraka mengindikasikan akan segera
terjadi fitnah.
ذُوقُوا
فِتْنَتَكُمْ هَذَا الَّذِي كُنْتُمْ بِهِ تَسْتَعْجِلُونَ.
“(Dikatakan kepada mereka):“Rasakanlah azabmu itu. Inilah azab yang
dulu kamu minta untuk disegerakan”.[Q.S. Aż-Żāriyāt: 14].
Secara ma’lum, Quran bersifat multifungsi
artinya berfaedah untuk hal apapun di kehidupan ini, seperti bisa menjadi obat untuk
segala penyakit dengan kata “Syifa” atau menjadi rahmat bagi seluruh
ummat ”Ar-Rahmat”. Terlepas dari ini, Secara
definitif arti mimpi
masih diperselisihkan. Pandangan Aristoteles (384-322 SM) bahwa mimpi
ialah aktivitas mental yang terjadi pada orang yang
tidur yang indera masih tetap menangkap rangsangan dari
luar. Berbeda menurut
para tokoh Psikologi Klinis Sigmund Freud menyatakan mimpi merupakan penghubung antara kondisi sadar dan tidak sadar.
Benar kiranya
pandangan tokoh psikologi ini, coba dirasakan, bisa jadi seseorang yang bermimpi
indah maka harinya akan
penuh dengan gairah. Sebaliknya, jika seseorang itu bermimpi buruk niscaya rutinitasnya akan terasa gelisah, hilangnya
semangat juang bahkan sampai resah.
Beberapa hikmah mimpi yang disinyalir dari kitab Tafsir Ibnu Sirin
sebagai pariwara berikut;
(1) Bermimpi melihat orang mati mandi sendiri maka
mimpi tersebut menunjukkan pemimpi akan terlepas dari kesusahan dan hartanya akan berlipat ganda.
(2) Bermimpi tidur bersama orang mati maka akan
panjang umur.
(3) Bermimpi seolah-olah berada dalam surga firdaus
maka memperoleh hidayah serta pengetahuan (ilmu).
(4)
Bermimpi
seakan-akan mengajari atau memperdengarkan jin akan al Qur’an maka akan
mendapat rizqi serta kekuasaan. “Katakanlah (Muhammad), telah diwahyukan
kepadaku bahwa sekumpulan jin telah mendengarkan (bacaan), lalu mereka berkata;
kami telah mendengarkan bacaan yang menakjubkan (al-Qur an)”[Q.S. Al-Jinn: 1].
(5)
Bermimpi seolah-olah
masuk surga maka akan menuai kebahagiaan dan keamanan.
Sebagaimana firman Allah swt, “Masuklah kalian akan surga dengan kesalamatan
nan keamanan” [Q.S. Al-Hujarat: 46].
(6) Bermimpi berjihad di jalan Allah SWT maka akan berjihad untuk urusan keluarganya
serta akan memperoleh banyak kebaikan. Selaras dengan firman-Nya
“Barang siapa yang berhijrah di jalan Allah niscaya mereka akan
mendapatkan di bumi ini tempat hijrah yang luas dan (rezeki) yang banyak”.[Q.S
An-Nisa: 100].
(7) Bermimpi akan pergi berjihad maka akan menuai keutamaan,
pujian baik, serta derajat tinggi, sejalan dengan kalam ilahi. “Allah
melebihkan derajat orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya atas orang-orang
yang duduk (tidak ikut berperang tanpa halangan)”.[Q.S. An-Nisa: 95].
(8) Bermimpi membunuh di jalan Allah maka akan
mendapat kebahagiaan, rizqi, dan derajat tinggi. “Sebenarnya mereka itu hidup,
di sisi Tuhannya mendapatkan rizqi”.[Q.S Al-Imran: 169-170].
(9) Bermimpi meninggal tidak sakit dan tidak ada
bentuknya maka panjang umur.
Itulah segelintir beberapa wacana pentakwilan
mimpi. Dan berangkat dari interpretasi ini
kita mulai paham, mimpi mempunyai peran urgen dalam ruang lingkup
dunia ini. Tak ayal kalau dalam sebuah kesempatan langka, Ibnu Sirin mengklasifikasi
mimpi menjadi dua: Pertama, mimpi yang benar (datang dari Allah swt) yaitu (روءيا). Kedua, mimpi
dusta buatan syetan sang durjana yang dinamai احلام. Bahkan dalam keterangan lain
diberitakan apabila seseorang bermimpi (احلام) hendaklah ketika bangun meludah ke sisi kiri tiga kali seraya
membaca ta’awud dengan harapan ditolong oleh Allah swt. [Riyādus Shālihin: 286].
Kemudian menyadari bahwa tidak
sembarang orang gampang bermimpi benar (mimpi yang datangnya dari Allah) maka ibnu Sirin memberikan berbagai macam tips atau tata krama sebelum tidur, yaitu:
(1)
Membiasakan
berkata jujur meski menyakitkan,
(2)
Berusaha
menjaga perbuatan yang baik,
(3)
Tidur dalam
keadaan suci berarti berwudu’, tempat dan pakaiannya tidak najis,
(4)
Tidur miring
dengan posisi lambung yang kanan serta meletakkan tanggannya di bawah pipi yang
kanan (tidur ala Rasulullah),
(5)
Membaca do’a
sebelum tidur.
Walhasil lantaran mimpi dan dunia
nyata bersinggungan satu dengan yang lain, sebagai manusia yang bijak, kita perlu
berkontemplasi seraya mempraktikkan tips barusan ini supaya perjalanan hidup kita
yang begitu singkat ini bermakna beserta kita bisa terhindar dari mimpi buruk
syetan yang akan membuat hidup kita tertimpa banyak kemalangan. Demikianlah, Wa
Allahu A’lam.
Salam Hangat Santri Ma'had Aly!
Salam Hangat Santri Ma'had Aly!

Komentar
Posting Komentar