Di atas Sajadah kumenunggu


Sepasang kekasih yang berikrar untuk berkometmen, sedikit banyak pernah berkhayal tentang terwujudnya kebersamaan. Khayal atau angan pun bervariasi macam hadirnya, adakalanya terbesit saat berdoa, sesekali terlintas saat sendiri merana, dan pada kondisi lainnya. Aktifitas ini wajar bagi mereka yang sedang meramu kasih sayang. Di samping fikiran yang dominan condong kepada pasangan, pun mereka akan happy jika menghabiskan jatah waktu bersama-sama.
Pasangan  yang baik, dia yang tidak hanya mencukupi kebutuhan pasangan dari jalur material melainkan juga memenuhi harapan dari jalur saleh spiritual dan saleh sosial. Dari jalur saleh spiritual, misalnya  saling mendoakan meski tidak saling diubar-umbar. Dari jalur saleh sosial, misalnya saling terbuka kepada keluarga masing-masing terkait dengan planning tindak tanduk perbuatan ke depan.
  Hidup bersama tidak sekedar tentang hidup berdua tanpa siapa, bukan sebatas berkaitan saling terima paksa kelemahan masing-masing berdua, atau bukan hanya tentang satu piring nasi dimakan bersama. Tidak cukup itu, demi meraih hidup berserakan bahagia. Ingat, hidup bersama juga tentang memadukan keluarga yang berbeda, beda suku/ras, beda adat dan sebagainya.
Jangan paksakan hubungan tetap erat, jika kedua pihak keluarga saling menentang tidak sepakat. Ini adalah esensi hidup bersama sebenarnya. Jika pasangan orang jauh, maka harus dikomonikasikan dengan kedua orang tua, jangan didiamkan dengan dugaan suatu waktu akan diceritakan. Jangan, anda bisa menyesal akhirnya…
Akan lebih bagus bagi anda yang sudah punya pasangan untuk menceritakan kisah anda kepada Yang Kuasa. Bukan Allah tidak tahu akan alur kisah hidup anda, akan tetapi sebagai hamba tentunya harus ada semacam interaksi inten dengan-Nya. Tiada rugi bercurhat pada-Nya bahkan Dia satu-satunya yang dapat memberikan harapan besarmu di atas sajadahmu di sana.
Bahkan anda juga bisa menunggu pasangan anda di atas sajadah. Bukan menunggu agar datang kemudian salat wajib berjamaah. Tunggulah sebentar di atas sajadahmu di sana, bertasbihlah kemudian bermohonlah...mungkin saja di atas sajadah berbeda, anda dan dia mengucap doa yang tujuannya sama.
Pintar-pintarlah menggantungkan masa depan kepada Allah Yang Esa. Pandai-pandailah memilih peluang kesempatan dan bersikap atas jalan yang dijalani anda bersama seseorang. Perbaguslah rajutan ikatan yang telah dipeluk erat bertabur kesedihan. Hal ini tidak lain, agar masa depan yang diinginkan secara kasatmata dapat terbaca di atas garis lurus tangan makhluk fana seperti kita walau sejatinya Allahlah yang Maha Segalanya... Wassalam.
Waallahu A'lam...


Oleh Syaiful Hady*



* Alumnus Nurul Qarnain
 Santri Aktif Ma'had Aly Sukorejo.





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kucing Putih di Rumahmu

Untukmu Calon Menantu Ibu

Risalah Kecil Santri Sebelum Balik Pondok