Makna Liburan Santri Sukorejo
Selepas imtihan Pondok Pesantren Sukorejo, bertepatan pada tanggal 26 April 2019 M mempunyai keistimewaan tersendiri khusus para santri Sukorejo-Situbondo. Di samping terealisasikannya program puja (Pulang Jamaah) dari Pesantren Sukorejo untuk santri. Patut disyukuri bahwa program puja ini mendapat respon aktif dari wali santri, alumni maupun simpatisan. Hal demikian, dibuktikan dengan antusiasnya wali santri dalam rangka menyambut, menjemput, serta serempak berbondong-bondong demi bersua dengan sang buah hati di tempat pangkal penjemputan (di kecamatan daerah masing-masing). Kebetulan alat tranportasi yang disediakan pesantren hanya sanggup mengantar para santri sampai di kecamatan daerah masing-masing.
Liburan santri selama 50 hari serupa bilangan 2 bulan kurang 10 hari
merupakan liburan yang lama bagi para santri Sukorejo. Pun begitu, terdapat fakta berdasarkan hasil riset pada beberapa santri sukorejo
bahwa tiada hari yang paling dinanti-nantikan oleh kaum sarungan
(santriwan) dan bani kerudungan (santriwati) sukorejo kecuali
hari liburan
ini. Ungkapan liburan yang familiar
di salah satu Pondok besar ini adalah imtihan. Liburan
santri bukanlah menunggu ketika tahun baru datang karena di tahun baru itu,
santri Sukorejo tidak boleh liburan apalagi bertujuan pulang.
Melirik terhadap asal tujuan mulia dari
liburan pesantren tidak ada maksud lain kecuali mengabdi kepada orang tua di
rumah karena alasan lillah, serta berniat mengamalkan ilmu kepada masyarakat
sekitar yang membutuhkannya, dan tujuan mulia yang lain sebagaimana yang telah
diwasiatkan oleh Kyai Ahmad Azaim Ibrahimy (Pengasuh Pondok Sukorejo saat ini).
Ilmu yang akan diamalkan ke masyarakat merupakan ilmu yang sudah dipelajari dan
telah dikuasai sesudah selang beberapa rentan waktu tertentu di pondok
pesantren yang masa pembelajarannya relatif lama.
Nah ketika para santri liburan sedapat mungkin
menghindari rutinitas ataupun kegiatan yang tak melahirkan maslahat
sebelumnya, atau terlebih melakukan perbuatan yang justru mengantarkan mafsadat
setelahnya. Semisal kebiasaan yang tidak berguna, sering tidur di waktu-waktu
yang tidak tepat, kontinu menonton televisi sampai lupa waktu, tidak jemu-jemu
mengintai layar medsos setiap hari tanpa berhenti dari bangun sampai tidur
lagi.
Hal demikian, bukanlah
liburan santri Sukorejo atau pondok pesantren lainnya. Liburan santri mestinya
berbeda dengan liburan para siswa di luar sana. Jika para siswa pasca-ujian sekolah, mulai membuat agenda-agenda
padat atau beberapa planning untuk melakukan pariwisata umpamanya, maka pihak santri tidak demikian. Liburan santri itu sangat spesial,
begitu ideal. Mengapa sebab? karena kepulangan santri mempunyai tujuan mulia yang harus ditunaikan dengan penuh tanggung-jawab pula.
Arti dari liburan
santri hendak melakukan aktivitas positif di rumah. Pada biasanya, santri baik
akan selalu membuat perencanaan pra-liburan sebelumnya. Dan konsep yang dibuat itu hanya mengarah kepada
perihal yang berfaedah semata. Seperti menyusun rancangan-rancangan yang mengundang kebaikan; ketika hampir liburan pondok jauh-jauh hari sudah menyediakan jadwal yang padat, jam sekian ngaji Qur’an, hari ini baca kitab buku pelajaran, dan susunan agenda lain yang bermaslahat.
Karena dikhawatirkan akan terlontar ujaran miring terkait makna luhur dari kata liburan santri dengan ujaran kurang baik, “kalau liburan ya
liburan, nggak usah belajar, nggak usah mutholaah pelajaran”. Kalau perkataan ini terjadi lantas bagaimana nasib santri
ketika di rumah? Hal ini sangat ironi penulis kira, menyikapi tingkah laku sebagian para santri yang begitu kepincut dan
sangat terbuai dengan gadget sampai lupa segalanya. Bagaimana tidak begitu, wong hampir di setiap sudut tempat, di pasar, di kafe makan, bahkan di
pinggir-pinggir jalan. Santri secara terang-terangan bercengkrama dengan handphone,
mulai alat telphone yang bermerek smartphone biasa, sampai gadget yang harganya luar biasa. Tidak ada
larangan memang pengoperasiaan ponsel. Toh, ponsel itu miliknya.
Fenomena kurang sedap ini,
merupakan pekerjaan rumah (PR) bagi para orang tua dan para santri
terutama untuk lebih bisa menggunakan medsos sepentingnya. Bukan penggunaan
yang overdosis setiap menit, setiap jam, liburnya ketika tidak sadar saja (saat tidur). Walaupun secara logika sadar, wajar mereka berlaku demikian, melirik
selama berbulan-bulan digodok dengan pelajaran, hafalan, beserta ujian yang
begitu rumitnya. Pantas kalau melakukan balas dendam ketika pulangan. Tapi satu sisi
kurang baik juga,
hatta terdengar sebilah ujaran masyarakat
setempat “ tak lebur eyabes” Bahasa Madura, artinya “tidak bagus dilihat”.
Berkenaan dengan imtihan ini, para santri dituntut untuk menunaikan wasiat-wasiat mulia kyai
Azaim Ibrahimy. Dengan begitu, di pulangan pesantren saat ini para santri sudah dapat menunaikan aktivitas positif di rumah tanpa banyak
bermain-main. Kebiasaan baik yang kontinu dilakukan di pondok, sudah barang
tentu dijalarkan kepada adat santri ketika pulang ke rumah saat liburan ini.
Jadi, mari segenap para wali dan santri di indonesia untuk bahu-membahu dengan berupaya membuka
lembaran liburan
pesantren dengan terus meningkatkan prilaku baik serta berusaha dengan semangat menggelora
dalam dada dan memantapkan jiwa bahwa hari liburan pesantren tidak boleh disia-siakan tanpa makna berguna.
Salam Hangat Santri Ma'had Aly Sukorejo!

Good Job
BalasHapusThank You kawan
Hapus