Bertopengkan Sandiwara


          
Kita sebagai manusia sosial pastinya sering bercengkrama dengan manusia sekitar, kita bakal mendengar ucapan-ucapan. Ucapan ini nantinya yang dinilai kejujuran atau berwujud kebohongan atau sandiwara. Sandiwara dan kebohongan bukanlah hal yang wajib disamakan. Sebab ditoleh secara definitif dua kata ini berbeda, apalagi secara substansialnya. Kata sandiwara sering disejajarkan dengan arti pura-pura, contoh di depan seseorang yang dicinta, parangai si A sangat baik  dan bijak, padahal si A asalnya berakhlak buruk. Sedangkan kata kebohongan selalu disinonimkan dengan kata dusta.
Kali ini, penulis tertarik untuk mengkisahkan tentang seseorang yang begitu pandai bersandiwara. Sebutlah inesial nama wanita itu adalah Sari. Sari adalah wanita berparas cantik, anggun, dan berakhlak terpuji. Siapapun lelaki yang mengenal atau sekilas menatap wajahnya, bakal linglung tidak berdaya. Sehingga tidak heran, Sari diperebutkan oleh kaum adam di desa tercintanya.
Suatu ketika Sari disukai oleh seorang lelaki yang tidak sempurna. Lelaki tersebut begitu menyukai Sari. Usut punya usut alasan lelaki menaruh hati, tidak dapat dilerai dengan sekedar kata-kata belaka. Alasan yang tidak sama dengan dalih lelaki saingannya, di mana alasan rasa suka lelaki lain hanya berkonotasikan kepada paras ayu si Sari.
Telah banyak lelaki hebat, kaya, dan tampan, telah mendekati bahkan melamar secara terang-terangan si Sari. Akan tetapi tidak ada satupun daftar lelaki tadi, dapat diterima oleh si Sari. Padahal wanita sekeliber Sari sangat mudah memilah dan mendapatkan lelaki hebat dan sempurna sesuai harapannya.
Tiada sangka bunga desa (Sari), justru terjerat belenggu cinta lelaki biasa nan penuh dengan kekurangan dari semesta. Makna lainnya cinta dalam diam. Cinta yang menjadi rahasia antara Sari dan Tuhan.
Dan apabila sang lelaki dan Sari tidak segera menyatukan akan perbedaan niscaya mereka tidak dapat menyatu senada impian. Bagaimana dapat bersatu? Jika Sari begitu lihai bersandiwara, sedangkan sang lelaki begitu cinta berbalutkan asa.
Sudah masyhur di telinga bahwa dua insan yang berbeda, akan kesulitan untuk bersama. Dua manusia yang tidak sama, akan sukar berjibaku di bawah tangga satu  nama. Dua manusia yang berbeda kometmen akan hambar tuk menyatukan tujuan dalam persimpangan jalan keabadian.
Memang benar, Allah yang menentukan, menetapkan, dan memastikan. Tetapi Allah tidak lupa memberikan solusi berupa harapan dan ihtiyar bagi hamba yang dicinta. Intinya jangan lupa mengambil hikmah dari sederet cerita di atas.
So, tentukan hari ini, berhentilah bersandiwara tiada pasti. Sandiwara memang boleh akan tetapi hidup tidak selalu menyangkut dan berbincang tentang sandiwara saja. Hidup juga membahas fakta-realita skenario manusia seluruhnya. 
Kelegalan bersandiwara bukan lantas membuat kita lupa kalau masih ada realita di ujung jalan sana. cukuplah sampai di sini, stigma sandiwara ini. Biar apa-apa yang diinginkan dapat tergapai kelak nanti.
Bukankah tiada indah, jika ikatan cinta bertopengkan sandiwara? Bukankah tidak akan bahagia, jika ikatan serius bermuslihat sandiwara? Dan bukankah begitu menakutkan, andaikata kometmen hidup terjembatani dengan sandiwara saja? Renugkanlah!  

"Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?"
 (Q.S. Al-An'Am32)


Oleh Syaiful Hady*





* Alumnus Nurul Qarnain
 Santri Aktif Ma'had Aly Sukorejo.




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kucing Putih di Rumahmu

Untukmu Calon Menantu Ibu

Risalah Kecil Santri Sebelum Balik Pondok