Berharap Lalu Kecewa Berat

Dalam mengarungi jalan terjal hidup di dunia, semua manusia tidak akan lepas dengan dua hal paling berpengaruh; harapan dan kecewa. Kita tahu bahwa Allah tidak menunaikan apa yang kita inginkan tetapi memberikan apa yang kita butuhkan. Kalau diumpamakan maka keinginan setingkat dengan harapan, tidak sampainya keinginan tidak lantas diserupakan dengan kekecewaan. Boleh jadi apa-apa yang kita harapkan akhirnya berujung pada ketidakpuasan. Bisa jadi perkara yang tidak pernah diharapkan bermuara kepada kebahagiaan.
Kita tidak usah jauh-jauh, contoh sederhana masalah jodoh. Jodoh tidak bisa kita pastikan, jodoh kita siapa, jodoh kita sekarang berada di mana, ataupun jodoh kita sedang melakukan apa. Kita terlalu naif bahkan tidak ngerti jodoh kita dalam kondisi atau kadaan bagaimana. Mungkin bagi anda yang sedang meramu ikatan pacaran, bersikokoh melakukan sesuatu semaksimal mungkin untuk menyenangkan orang yang disebut dengan kata “pacar”. Katakan semisal; anda hendak membeli makanan, maka anda juga tidak lupa untuk membelikan makanan untuknya. Anda setiap malam mengurangi jatah tidur, demi dia yang tercinta, dan pengorbanan serta perjuangan serupa lainnya. 
Akan tetapi apakah anda yakin orang yang diperlakukan sebegitu spesialnya adalah jodoh untuk anda? Apakah anda dapat memastikan seseorang yang anda jaga itu berjodoh dengan anda? Tentu tidak!
Sekarang kita berusaha untuk berfikir sadar, kenapa pacaran dalam islam itu tidak jelas? Alasannya satu, pacaran yang legal hanyalah di bawah payung agama islam yaitu pacaran setelah pernikahan. Dengan demikian, sudah pasti pacaran bukan lambang perjodohan. Sebagaimana yang sudah dijelaskan.
Kawan...anda termasuk juga saya, seringkali berharap kepada seseorang menjadi jodoh kita pada akhirnya. Harapan seperti ini boleh asalkan sewajarnya yakni sebatas harapan yang patut-patut saja diperjuangkan. Maksud lainnya harapan besar haruslah dititipkan kepada Allah. Tidak perlu berkhayal begitu tinggi pada seseorang yang kau inginkan malam dan waktu ini. Biar tidak terjerat dengan bentuk kecewa-kecewa menyebalkan di kemudian hari.
Kawan...hari ini tidak pernah sama dengan hari kemarin. Begitu pun sebaliknya. Cinta yang kita tanam hari ini belum pasti berbuah bangga di hari nanti. Benci yang timbul hari ini bukan benci yang terpatri esok nanti. Rotasi hidup akan terus berjalan tanpa ada satu pun manusia yang bisa menghentikan. Akan selalu lahir hikmah dibalik hati berubah-berubah yaitu semata-mata hendak merelevankan dengan jejak langkah dunia yang fana.
Berharap boleh-boleh saja, asal tidak buta akan realita. Jika sudah terlanjur kecewa maka bersegeralah mengahadap Yang Esa. Lebih baik tidak berharap sama sekali waktu ini tapi bisa memiliki nanti, daripada begitu buta harap namun akhirya ditampar kecewa yang berat.
Introspeksi diri, berdoa malam hari, jangan sekali-kali mengalungkan harapan besar kepada manusia, berasalah hanya kepada Allah sang pencipta alam fakta, biar bayangan samar dari sayap dunia tidak begitu mengecewakan saat harapan-harapan tidak terkabulkan. Waallahu A’lam  

Dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap
(Q.S. Alam Nasyrah (94): 8)


Oleh Syaiful Hady*

* Alumnus Nurul Qarnain
 Santri Aktif Ma'had Aly Sukorejo.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kucing Putih di Rumahmu

Untukmu Calon Menantu Ibu

Risalah Kecil Santri Sebelum Balik Pondok